Senin, 28 Mei 2012

Peranan Media Audiovisual Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan sampai 20

A.    Pendahuluan
1.    Latar Belakang
Dengan sarana dan prasarana yang ada, guru harus selalu berusaha membelajarkan siswa menjadi siswa yang aktif. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode belajar sambil bermain untuk meningkatkan daya fikir siswa. Namun, usaha yang dilakukan belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dipengaruhi oleh daya tangkap siswa dalam belajar masih rendah, juga dipengaruhi adanya perbedaan cara belajar siswa. Ada siswa yang  masih tergantung pada apa yang diberikan guru dan yang laninnya lebih suka belajar dalam bentuk permainan. Cara belajar siswa lebih mengarah pada konsep mengingat penjelasan guru dari pada menemukan sendiri dalam belajar. Siswa lebih suka mengerjakan latihan yang ada pada buku paket dari pada menjawab pertanyaan secara lisan.
Dengan adanya perbedaan cara belajar siswa, sering timbul beberapa masalah yang dihadapi guru ketika kegiatan proses belajar mengajar berlangsung. Beberapa diantaranya adalah ada siswa yang suka bermain pada saat belajar, suka mengganggu temannya di saat pelajaran berlangsung, sering keluar masuk di saat jam pelajaran, siswa menggunakan bahasa daerah dalam belajar, dan sulit memahami materi matematika yang dijelaskan oleh guru.
Dari beberapa permasalahan yang ada, terdapat satu permasalahan yang paling utama yaitu siswa yang sulit memahami materi pelajaran matematika yang dijelaskan oleh guru khususnya materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20. Hal ini terlihat pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Dengan ciri-cirinya yaitu: siswa mengerjakan soal latihan tidak mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh guru, siswa menyembunyikan hasil kerjanya ketika guru mendekatinya, kebiasaan siswa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di sekolah dan siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru.. Dari ciri-ciri tersebut diketahui beberapa penyebabnya antara lain: siswa tidak memperhatikan ketika guru menjelaskan materi pelajaran, guru tidak menggunakan media, siswa kurang bersemangat dalam belajar, siswa kurang tertarik terhadap mata pelajaran matematika, dan daya tangkap siswa rendah. Setelah di lakukan pengamatan, maka cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan memberikan pengarahan atau pendekatan individual, memberikan latihan tambahan, menggunakan media yang menarik, memberikan penguatan atau motivasi bahwa belajar matematika itu tidak sulit, dan menggunakan metode pembelajaran permainan dan menggunakan alat peraga yang menarik. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengerjakan latihan-latihan yang diberikan oleh guru dan teman sekelas.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul tentang “Peranan Media Audiovisual Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan sampai 20.”
2.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apakah dengan menggunakan media audiovisual bisa meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20?
3.    Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui apakah media audiovisual bisa meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20.
4.    Manfaat
a.    Bagi guru
Bagi guru dapat bermanfaat sebagai bahan masukan terhadap bidang studi matematika dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media gambar.
b.    Bagi siswa
Dapat meningkatkan motivasi, kualitas dan prestasi belajar siswa.

c.    Bagi sekolah
Dapat meningkatkan prestasi sekolah dengan mutu yang lebih baik.

B.    Pembahasan
1.    Pembelajaran Matematika
a.    Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalaman dalam interaksi dengan lingkungannya untuk mencapai tujuan tertentu. Pada dasarnya pembelajaran merupakan proses interaksi edukatif antara dua unsur yaitu siswa yang belajar dan guru yang mengajar, dan berlangsung dalam suatu ikatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dari hal tersebut hendaknya kita paham bahwa terjadinya perilaku belajar pada pihak siswa dan perilaku mengajar pada pihak guru tidak berlangsung dari satu arah melainkan terjadi secara timbal balik di mana kedua pihak berperan dan berbuat secara aktif di dalam suatu kerangka kerja dan menggunakan cara berfikir yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama.
Nickson (Jajang, 2005:5) berpendapat bahwa pembelajaran matematika adalah pemberian bantuan kepada siswa untuk membangun konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi (arahan terbimbing) sehingga konsep atau prinsip itu terbangun. Pendapat tersebut menandakan bahwa guru dituntut untuk dapat membuat siswa aktif selama pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan pada siswa. Guru bukan mentransfer pengetahuan pada siswa tetapi membantu agar siswa membentuk sendiri pengetahuannya.
Sedangkan menurut Junaidi (2010) pembelajaran matematika adalah suatu proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan situasi agar siswa belajar dengan menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing.
Dari kedua pendapat di atas, pembelajaran matematika merupakan suatu proses yang menandakan bahwa guru dituntut untuk dapat membuat siswa aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Guru juga berperan untuk mengajarkan kepada siswa agar siswa memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika.
b.    Tujuan Pembelajaran Matematika
Adapun tujuan dari pengajaran matematika adalah:
1)    Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dan pola pikir dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang.
2)    Mempersipkan siswa meggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari serta dalam mepelajari berbagai ilmu pengetahuan.
3)    Terbentuknya kemampuan nalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan memiliki sifat objektif, jujur disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari. (PPPG, 2004:1)
1.    Media Pembelajaran
a.    Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Rossi dan Breidle (dalam Sanjaya, 2006:163) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya.
Dari pengertian media pembelajaran menurut Rossi dan Breidle, media pembelajaran bisa berasal dari mana saja, bisa dari radio dan televisi, dan bisa juga berasal dari buku, majalah, atau koran.
Sedangkan menurut Gerlach dan Ely (dalam Sanjaya, 2006:163) menyatakan bahwa secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Menurut Gerlach dan Ely media pembelajaran itu bisa meliputi apa saja. Dari manusia, bahan, alat, hingga kegiatan proses pembelajaran yang dapat menciptakan keadaan dimana siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Menurut Djamarah dan Zain (2002:121) media pembelajaran adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran. Media pembelajaran disini diartikan sebagai alat bantu yang bisa dalam bentuk dan kondisi apapun sehingga dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
Dari keterangan tiga pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang bisa dalam bentuk apapun yang dapat berupa alat-alat elektronik, buku, majalah, koran, atau alat apapun yang dapat berfungsi untuk membentuk sikap, menambah keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Bahkan manusia itu sendiri bisa juga digunakan sebagai media pembelajaran.
b.    Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Sanjaya (2006:169-171) Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi dan manfaat, yaitu:
1)    Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film, atau direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa tersebut dapat disimpan dan digunakan ketika diperlukan.
2)    Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Selain itu media pembelajaran juga bisa membantu menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak mungkin untuk dibawa dalam kelas ataupun objek yang terlalu kecil yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata.
3)    Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.
Jadi fungsi dan manfaat dari media pembelajaran adalah menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu, memanipulasi keadaaan, peristiwa, atau objek tertentu, dan juga menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu bisa diabadikan melalui foto, film, atau direkam melalui video atau audio. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu bisa dimisalkan dengan penggunaan mikroskop ketika kita melihat bakteri, jamur, ataupu virus yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa agar siswa bisa lebih tertarik terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
c.    Macam-macam Media Pembelajaran
Menurut Sanjaya (2006:172) dilihat dari sifat, media pembelajaran dapat dibagi menjadi tiga:
1)    Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara.
2)    Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara.
3)    Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat.
Menurut sifatnya media pembelajaran dibagi menjadi tiga, yaitu media auditif, visual, dan audiovisual. Media auditif adalah media yang hanya bisa didengar saja. Media visual merupakan media yang hanya dapat dilihat saja. Sedangkan media audiovisual merupakan media yang mengandung unsur gambar dan juga suara.
2.    Media Audiovisual
a.    Pengertian Media Audiovisual
Sebelum beranjak ke pengertian media audio visual maka terlebih dahulu kita mengetahui arti kata media itu sendiri. Apabila dilihat dari etimologi “kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, maksudnya sebagai perantara atau alat menyampaikan sesuatu” (Salahudin,1986: 3)
Sejalan dengan pendapat di atas, AECT (Association For Education Communication Technology) dalam Arsyad mendefinisikan bahwa “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk menyalurkan pesan informasi” (Arsyad,2002:11).
“Audio visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar” (Rohani, 1997: 97-98).
Media audio visual adalah merupakan media perantara atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
b.    Bentuk-Bentuk Media Audiovisual
Berbicara mengenai bentuk media, disini media memiliki bentuk yang bervariasi sebagaimana dikemukakan oleh tokoh pendidikan, baik dari segi penggunaan, sifat bendanya, pengalaman belajar siswa, dan daya jangkauannya, maupun dilihat dari segi bentuk dan jenisnya. Dalam pembahasan ini akan dipaparkan sebagian dari bentuk media audio visual yang dapat diklasifikasikan menjadi delapan kelas yaitu:
1)    Media audio visual gerak contoh, televisi, video tape, film dan media audio pada umumnaya seperti kaset program, piringan, dan sebagainya.
2)    Media audio visual diam contoh, filmastip bersuara, slide bersuara, komik dengan suara.
3)    Media audio semi gerak contoh, telewriter, mose, dan media board.
4)    Media visual gerak contoh, film bisu
5)    Media visual diam contoh microfon, gambar, dan grafis, peta globe, bagan, dan sebagainya
6)    Media seni gerak
7)    Media audio contoh, radio, telepon, tape, disk dan sebagainya
8)    Media cetak contoh, televisi (Soedjarwono, 1997: 175).
3.    Metode Pembelajaran
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Hipni (2011) metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Sudjana (2005: 76) “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan definisi/pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik”. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam pembelajaran passing bawah bolavoli, antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif dan konvensional.
4.    Metode Bermain
Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme.
Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat. Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan.
Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran).
Tujuan dari metode bermain adalah dapat mengajarkan pengertian (konsep), menanamkan nilai serta dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah.
Manfaat metode bermain yaitu membangkitkan minat siswa, memupuk dan mengembangakn rasa kejra sama siswa, mengembangkan kriatifitas siswa, dan menumbuhkan kesadaran siswa.
5.    Motivasi Belajar Siswa
Huitt, W. (2001) mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi menurut Huitt, yaitu: 1) kondisi atau status internal itu mengaktifkan dan memberi arah pada perilaku seseorang; 2) keinginan yang memberi tenaga dan mengarahkan perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan; 3) Tingkat kebutuhan dan keinginan akan berpengaruh terhadap intensitas perilaku seseorang.
Thursan Hakim (2000 : 26) mengemukakan pengertian motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam belajar, tingkat ketekunan siswa sangat ditentukan oleh adanya motif dan kuat lemahnya motivasi belajar yang ditimbulkan motif tersebut.
Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2004:2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.
Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh factor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik sedangkan factor di luar diri disebut ekstrinsik.
Faktor instrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Sedangkan factor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor lain yang kompleks.
Berkaitan dengan proses belajar siswa, motivasi belajar sangatlah diperlukan. Diyakini bahwa hasil belajar akan meningkat kalau siswa mempunyai motivasi belajar yang kuat. Motivasi belajar adalah keinginan siswa untuk mengambil bagian di dalam proses pembelajaran (Linda S. Lumsden: 1994). Siswa pada dasarnya termotivasi untuk melakukan suatu aktivitas untuk dirinya sendiri karena ingin mendapatkan kesenangan dari pelajaran, atau merasa kebutuhannya terpenuh. Ada juga Siswa yang termotivasi melaksanakan belajar dalam rangka memperoleh penghargaan atau menghindari hukuman dari luar dirinya sendiri, seperti: nilai, tanda penghargaan, atau pujian guru (Marx Lepper: 1988).
Menurut Hermine Marshall Istilah motivasi belajar mempunyai arti yang sedikit berbeda. Ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pendapat lain motivasi belajar itu ditandai oleh jangka panjang, kualitas keterlibatan di dalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses belajar ( Carole Ames: 1990).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan.
6.    Solusi Yang Pernah Ada Selama Ini
Ada beberapa solusi terdahulu yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20, yaitu antara lain:
a.    Menggunakan media gambar
Dengan menggunakan gambar binatang, buah-buahan, dan lain-lain.
b.    Menggunakan korek api, sedotan, lidi, dsb.
Dengan cara menggunakan korek api, sedotan, ataupun lidi, konsep akan tertanam lebih lama dalam otak siswa.
c.    Mengunakan alam sekitar
Misalnya ada pohon yang memiliki banyak buah. Siswa diminta untuk menghitung jumlah buah tersebut.
7.    Solusi Yang Ditawarkan Oleh Penulis
Disini penulis menawarkan solusi untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20 yaitu dengan menggunakan media audiovisual. Media ini yang nantinya akan digunakan penulis untuk menanamkan konsep kepada siswa tentang materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20. Penggunaan media ini diharapkan dapat memberikan solusi yang terbaik untuk siswa yang masih sulit dalam memahami materi tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20.
8.    Langkah-Langkah Implementasi Solusi
Dari penggunaan media audiovisual tersebut, maka penulis memaparkan langkah-langkah implementasi solusinya, yaitu:
a.    Menggunakan microsoft office power point dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20.
b.    Siswa diminta untuk menjawab soal-soal yang sudah disediakan.
c.    Ketika jawaban mereka benar, maka akan muncul potongan gambar yang natinya harus disusun siswa menjadi sebuah gambar yang utuh.
d.    Jika ingin menyusun semua potongan gambar menjadi gambar yang utuh, siswa harus menjawab semua soal yang sudah disediakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar